<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>Catatan Fotografi Sawala</title>
	<atom:link href="http://photography.sawala.com/blog/index.php?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://photography.sawala.com/blog</link>
	<description>Jurnal fotografi seorang pemula...</description>
	<pubDate>Wed, 09 Jun 2010 15:40:28 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Lightroom, Apa dan Bagaimana?</title>
		<link>http://photography.sawala.com/blog/?p=103</link>
		<comments>http://photography.sawala.com/blog/?p=103#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Jun 2010 15:33:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sawala</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Review]]></category>

		<category><![CDATA[adobe]]></category>

		<category><![CDATA[apa itu lighroom]]></category>

		<category><![CDATA[fasilitas lightroom]]></category>

		<category><![CDATA[lightroom]]></category>

		<category><![CDATA[ulasan lightroom]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://photography.sawala.com/blog/?p=103</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Lightroom ini ditujukan sebagai software pembantu bagi fotografer amatir yang serius dan para fotografer profesional dalam melakukan pekerjaan fotografinya..&#8221;
Bagi Anda yang sering mengambil foto (memotret) dengan menggunakan kamera digital, dan sudah cukup lama melakukannya, tentu akan banyak sekali hasil-hasil foto Anda. Dengan kamera digital, foto yang bisa diambil jadi sangat banyak bila dibandingkan dengan kamera [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>&#8220;Lightroom ini ditujukan sebagai software pembantu bagi fotografer amatir yang serius dan para fotografer profesional dalam melakukan pekerjaan fotografinya..&#8221;</em></p>
<p>Bagi Anda yang sering mengambil foto (memotret) dengan menggunakan kamera digital, dan sudah cukup lama melakukannya, tentu akan banyak sekali hasil-hasil foto Anda. Dengan kamera digital, foto yang bisa diambil jadi sangat banyak bila dibandingkan dengan kamera film. Masalah baru muncul, tidak semua hasil <em>jepretan </em>itu layak dicetak, tapi sayang juga untuk dibuang. Mungkin ada foto yang diambil dengan hasil tidak mumpuni, tetapi akan bercerita jika digabungkan dengan foto-foto yang lain.</p>
<p>Sekarang, harga tempat penyimpanan data digital atau harddisk sudah sangat-sangat terjangkau, akan tetapi jika disimpan secara tradisional, dalam bentuk folder, tentu akan sangat menyulitkan kita dalam menatanya. Belum lagi masalah penamaan file, standard penamaan dari kamera berupa huruf dan beberapa angka sequential yang sudah tentu tidak mewakili apa yang ada didalamnya.</p>
<p>Dengan bantuan software, bukan hanya penataan dan penamaan foto bahkan sampai <em>retouching</em> bisa dilakukan. Salah satu software yang mengakomodir hal ini adalah Adobe Photoshop Lightroom. Lightroom ini ditujukan sebagai software pembantu bagi fotografer amatir yang serius dan para fotografer profesional dalam melakukan pekerjaan fotografinya, di situs dpreview.com disebut sebagai &#8220;<em>..the essential digital photography workflow solution.</em>&#8221;</p>
<p><span id="more-103"></span>Saya sudah memakai Lightroom ini sejak Lightroom 2.0 dan memang sudah sangat ketergantungan sampai sekarang. Photoshop hanya dipakai untuk pekerjaan <em>touching</em> yang extreme, sudah sampai memanipulasi subject foto atau menggabungkan beberapa foto.</p>
<p><strong>Fasilitas Lightroom</strong></p>
<p>Sebagai <em>essential digital photography workflow solution</em>, lightroom &#8220;hanya&#8221; mempunyai 5 kemampuan, itupun secara esensi sebenarnya cukup 2, sedangkan yang 3 merupakan kemampuan pelengkap sehingga membuatnya lebih <em>powerfull</em>.</p>
<p>Kelima kemampuan tersebut adalah: Library, Develop, Slideshow, Print, dan Web. Saya mengelompokan Library dan Development sebagai fasilitas yang paling penting dan paling membantu bagi fotografer, dan Slideshow, Print dan Web akan lebih mempermudah dalam hal menampilkan foto dari proses di Library dan Develop.</p>
<p>Ada langkah yang harus pertama kita lakukan sebelum bisa mengikuti <em>workflow</em> dari lightroom, yaitu mengimport foto kedalam lightoom, baik dari <em>device</em>, seperti kamera, <em>memory</em> <em>card, </em>atau tempat penyimpanan external, maupun dari local harddisk. Import ini dilakukan karena lighroom bertindak sebagai catalog bukan browser dari file-file image (seperti Adobe Bridge).</p>
<p>Dengan melakukan Import, berarti kita memasukan data file secara lengkap ke database lightroom tentang file-file yang akan kita kelola, dan terpisah dari file aslinya. File hasil dari kamera tidak akan diganggu gugat walaupun kita melakukan perubahan terhadap file tersebut. Hal ini sangat menguntungkan bagi fotografer dalam menyimpan keaslian hasil karyanya.</p>
<p><strong>Library</strong></p>
<p>Fasilitas ini digunakan sebagai perpustakaan dari foto-foto kita. Seperti layaknya di perpustakaan, semua foto diatur dalam mengikuti aturan tertentu, berdasarkan Catalog, Folder dan Collection.</p>
<p>Catalog berisi collection yang bersifat sementara, dan kita tidak bisa menambah atau mengurang jumlah <em>items</em> Catalog tersebut, dan isinya secara otomatis dikelola oleh lightroom sendiri, kecuali Quck Collection yang digunakan sebagai penampung secara cepat dari foto-foto yang kita kelola.</p>
<p>Folder adalah tampilan folder seperti halnya <em>Window Explorer</em> hanya saja file-file yang sudah di <em>Impor</em> terlebih dahulu.</p>
<p>Terakhir adalah Collection, dimana kita bisa menngunakan Collection ini untuk mengumpulkan foto-foto yang mempunyai kesamaan, sama seperti Album foto yang biasa kita buat untuk menyimpan hasil foto-foto kita. Dengan adanya collection ini kita lebih gampang mengelompokan foto dan akan lebih mudah juga untuk mencarinya.</p>
<p>Setiap foto dalam library juga bisa dilengkapi data-data didalamnya, seperti kita bisa memasukan kata kunci (<em>keyword</em>) untuk setiap foto. Dan pengaturan metadata bisa dilakukan dengan sangat intuitive didalam library ini.</p>
<p>bersambung..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://photography.sawala.com/blog/?feed=rss2&amp;p=103</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Antara Fotografi dan Digitall Imaging</title>
		<link>http://photography.sawala.com/blog/?p=85</link>
		<comments>http://photography.sawala.com/blog/?p=85#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Sep 2009 02:03:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sawala</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Notes]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://photography.sawala.com/blog/?p=85</guid>
		<description><![CDATA[
 
&#8220;karena insting dan keberuntungan untuk menghasilkan sebuah foto hanya bisa ditebus oleh kesabaran dan penantian. Dalam sabar dan penantian terdapat proses dalam waktu, yang akan membuat sebuah foto menjadi matang.&#8221;
Pemanfaatan teknologi dalam berbagai hal menjadi suatu keharusan yang tidak bisa dihindari. Sesuatu yang kita pakai, sesuatu yang kita kendarai bahkan sesuatu yang kita makan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em></em></p>
<p><em> </em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span>&#8220;karena insting dan keberuntungan untuk menghasilkan sebuah foto hanya bisa ditebus oleh kesabaran dan penantian. Dalam sabar dan penantian terdapat proses dalam waktu, yang akan membuat sebuah foto menjadi matang.&#8221;</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-style: normal;">Pemanfaatan teknologi dalam berbagai hal menjadi suatu keharusan yang tidak bisa dihindari. Sesuatu yang kita pakai, sesuatu yang kita kendarai bahkan sesuatu yang kita makan tidak ada yang tidak menggunakan teknologi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-style: normal;">Fotografi lahir dan berkembang jauh sebelum teknologi yang kita pakai sekarang ada. Dari kamera </span>pinhole<span style="font-style: normal;">, kamera paling sederhana yang di dilukiskan oleh para filosofi pada abad 4 dan 5 sebelum masehi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-style: normal;">Akhir-akhir ini majalah langganan saya yang selalu tiap bulannya mengadakan perlombaan fotografi, menjadikan foto yang menang adalah foto yang dihasilkan dari gabungan dua foto yang berbeda, yang jelas ini merupakan hasil rekayasa digital. Menggunakan Photoshop.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-style: normal;"><span id="more-85"></span>Latar belakang pendidikan saya dari teknik komputer, tentu sangat mempengaruhi cara kerja saya, termasuk dalam fotografi. Hal yang pertama saya pelajari ketika mempunyai kamera baru adalah bagaimana menggunakan kamera itu dengan komputer, seperti </span><span style="font-style: normal;"><em>live shooting</em></span><span style="font-style: normal;">, update </span><span style="font-style: normal;"><em>firmware, </em></span><span style="font-style: normal;">bahkan semua software bawaan segera diinstall. Tidak lupa software wajib fotografer photoshop dan software tambahan wajib adobe lightroom.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-style: normal;">Ketika sedikit-demi sedikit mengenal dunia fotografi yang sangat saya kagumi, ternyata banyak sekali variable penentu dalam menciptakan sebuah foto,  lanyaknya seni-seni yang lain juga begitu! Tidak seperti bayangan awal saya sebelum belajar tentang fotografi, bahwa fotografi itu hanya seni menentukan arah mana atau </span><span style="font-style: normal;"><em>anggle</em></span><span style="font-style: normal;"> foto itu dibuat. Jika angle-nya tepat maka foto yang ditampilkan akanlah menakjubkan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-style: normal;">Meskipun saya belajar tentang photoshop dari berbagai litelatur, dan hasil karya yang di hasilkan oleh photoshop sangatlah mengagumkan, akan tetapi, ketika saya melihat pemenang dari lomba bulanan tersebut yang setiap fotonya hasil gabungan dari dua foto yang berbeda atau penambahan komponen foto secara significan, ada perasaan sedih. Bukan sedih karena foto-foto yang tidak bagus, tidak sama sekali!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-style: normal;">Foto pemenang mempunyai makna yang mendalam, bahkan terlalu mendalam ketika itu dihubungkan dengan fotografi. Contohnya foto yang berjudul &#8220;Anak dari Surga&#8221;, dimana fotonya terdiri dari foto 4 orang dewasa yang sedang bermain dengan satu anak kecil yang diangkat setinggi-tingginya sampai terbang. Ditambahkan cahaya yang datang dari arah kanan atas tepat ke anak yang sedang melayang itu, mengesankan anak itu diturunkan oleh cahaya tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-style: normal;">Untuk menghasilkan foto dari digitall imaging, seperti photoshop, yang saya rasakan hasilnya tidak bisa dibandingkan dengan hasil &#8216;jepretan&#8217; langsung dari fotografi. Bagaimana tidak, seperti contoh foto salah-satu pemenang bulanan diatas. Untuk mendapat foto seperti tersebut sang fotografer haruslah mempunyai insting yang sangat kuat atau mungkin keberuntungan, tidak lupa teknik dan penguasaan terhadap kamera.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-style: normal;">Hal-hal tersebut; insting dan keberuntungan juga teknik dan penguasaan kamera merupakan hal yang membuat foto jauh lebih bermakna ketimbang penambahan secara digitall. Selanjutnya, ada pertanyaan yang mungkin agak kontroversi; &#8220;Jadi, foto olahan tersebut mempunyai seni yang lebih rendah?&#8221;. Saya rasa tidak, hanya saja mereka berada dalam dunia yang berbeda, jangan sekali-kali menyatukan mereka, karena insting dan keberuntungan untuk menghasilkan sebuah foto hanya bisa ditebus oleh kesabaran dan penantian. Dalam sabar dan penantian terdapat proses dalam waktu, yang akan membuat sebuah foto menjadi matang. Jika kematangan sebuah foto dipersingkat oleh olah digital, maka sama halnya buah yang matang di pohon dan buah yang dibuat menjadi matang, hasilnya mungkin sama tapi saya rasa akan lebih nikmat yang matang dipohon.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-style: normal;">Namun akhirnya semua penilaian tergantung dari yang menilai, baik juri perlombaan ataupun orang awam. Namun sudah selayaknylah penilaian antara juri dan orang awam mempunyai alasan yang sangat berbeda, juri haruslah lebih bijak, lebih didasarkan terhadap sesuatu, baik teori maupun profesionalisme.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://photography.sawala.com/blog/?feed=rss2&amp;p=85</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pentingnya White Balance ketika mengambil foto</title>
		<link>http://photography.sawala.com/blog/?p=74</link>
		<comments>http://photography.sawala.com/blog/?p=74#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Mar 2009 10:41:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sawala</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Belajar Fotografi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://photography.sawala.com/blog/?p=74</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Seni bukanlah hasil dua dari satu tambah satu, seni lebih kepada bagaimana kita mengolah satu tambah satu menjadi dua.&#8221;
Sebelum saya mengenal white-balance saya memotret kebanyakan menggunakan AWB atau Automatic White Balance. Memang ada bagus dan kekurangannya menggunakan AWB ini, tapi untuk Anda yang ingin menjadi &#8220;tukang foto&#8221; saya kira lebih banyak kekuranggannya dibandingkan dengan kelebihannya.
Dengan menggunakan AWB, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>&#8220;Seni bukanlah hasil dua dari satu tambah satu, seni lebih kepada bagaimana kita mengolah satu tambah satu menjadi dua.&#8221;</em></p>
<p>Sebelum saya mengenal <em>white-balance</em> saya memotret kebanyakan menggunakan AWB atau <em>Automatic White Balance</em>. Memang ada bagus dan kekurangannya menggunakan AWB ini, tapi untuk Anda yang ingin menjadi &#8220;tukang foto&#8221; saya kira lebih banyak kekuranggannya dibandingkan dengan kelebihannya.</p>
<p>Dengan menggunakan AWB, kita hanya bisa menerima bagaimanapun jadinya hasil si foto itu. Teknologi untuk membuat AWB mungkin bukan teknologi yang sembarang, tapi sampai sekarang saya masih percaya, bahwa seni tidak bisa sepenuhnya diserahkan kepada teknologi. Seni bukanlah hasil dua dari satu tambah satu, seni lebih kepada bagaimana kita mengolah satu tambah satu menjadi dua.</p>
<p><strong><span id="more-74"></span>Kenapa harus </strong><em><strong>White Balance</strong></em><strong>??</strong></p>
<p>Di suatu workshop fotografi yang dibawakan oleh Arbain Rambey, beliau pernah berceloteh kenapa harus dinamakan <em>White Balance</em>, kenapa gak <em>Red Balance</em> atau yang lainnya. Terdengan sebagai pertanyaan yang sederhana, tapi saya sendiri sedikit memutar otak untuk menemukan jawabannya.</p>
<p>Satu-satunya warna yang peka terhadap perubahan hanyalah warna putih, coba saja anda sinari kertas warna putih dengan warna yg lain, niscaya kertas tersebut akan terlihat sebagai warna yang menyinarinya. Dengan dasar inilah dalam fotografi dinamakan <em>white balance</em> atau keseimbangan warna putih.</p>
<p>Jika dalam foto yang dihasilkan warna putih sebagai warna putih (aslinya) sudah tentu warna yang lainnyapun akan mengikutinya. Pertanyaan selanjutnya, apakah dengan demikian kita akan menyelesaikan masalah? Saya rasa tidak, dalam sebuah foto sangat memungkinkan mempunyai dua <em>white balance</em>, contohnya pemotretan gedung yang disorot lampu dengan <em>background</em> langit malam dengan bulan.</p>
<p>Pada contoh diatas mempunyai dua <em>white balance</em> yang berbeda, dan solusinya kita harus memilih satu dari dua <em>white balance</em> tersebut, karena dalam satu hasil foto kita tidak bisa menggunakan lebih dari satu <em>white balance.</em></p>
<p><strong>Bagaimana cara menggunakan </strong><em><strong>white balance</strong></em></p>
<p><em>White balance</em> direpresentasikan oleh derajat suhu kelvin, cahaya yang kurang direpresentasikan dalam derajat yang rendah dan sekin kuat cahaya akan semakin besar pula derajat kelvin-nya. Jika kita menggunakan <em>white-balance</em> yang tidak tepat, maka kita akan menghasilkan foto yang kebiru-biruan jika derajat kelvinnya terlalu rendah, atau menjadi lebih merah jika derajat kelvinnya terlalu tinggi.</p>
<p><strong>Setting White Balance di kamera</strong></p>
<p>Untuk Setting <em>white balance </em>di kamera, cukup sesuaikan dengan kondisi pencahayaan, jika memotret cahaya lilin misalnya, maka setting <em>white balance </em>menjadi 1000-2000 K. Sebagai bahan pertimbangan untuk pengukuran, angka 5000 merupakan angka tengah dari WB ini, jika diambil kondisi pencahayaan, maka pencahayaan siang hari dengan langit cerah dan matahari lagi bersinar.</p>
<p>Untuk pengukuran cahaya yang lain, mungkin bisa dijadikan patokan dari kondisi pencahayaan siang hari tersebut.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://photography.sawala.com/blog/?feed=rss2&amp;p=74</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Canon EOS 5D Mark II Berlenggang</title>
		<link>http://photography.sawala.com/blog/?p=68</link>
		<comments>http://photography.sawala.com/blog/?p=68#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Feb 2009 02:40:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sawala</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Review]]></category>

		<category><![CDATA[5D Mark II]]></category>

		<category><![CDATA[Canon]]></category>

		<category><![CDATA[EOS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://photography.sawala.com/blog/?p=68</guid>
		<description><![CDATA[Canon EOS 5D kembali berlenggang dia ajang cat-walk kamera DSLR melalui adek barunya Mark II. Kamera itu diluncurkan tanggal 17 september tahun lalu, baru kemarin saya sempat membelinya di toko langganan, sekaligus tiga kamera lainnya dari Nikon D700 dan Sony DSLR-A900. Tapi, sayang sekarang saya harus berpisah dengan ketiga kamera tersebut, sekarang sudah tidak ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Canon EOS 5D kembali berlenggang dia ajang cat-walk kamera DSLR melalui adek barunya Mark II. Kamera itu diluncurkan tanggal 17 september tahun lalu, baru kemarin saya sempat membelinya di toko langganan, sekaligus tiga kamera lainnya dari Nikon D700 dan Sony DSLR-A900. Tapi, sayang sekarang saya harus berpisah dengan ketiga kamera tersebut, sekarang sudah tidak ada lagi ditangan saya karena tadi pagi saya terbangun.</p>
<p>Di situs dpreview dikatakan bahwa kamera EOS dalam jajaran Full-Frame ini merupakan kamera pertama dengan body compact, yaitu dia tidak mempunyai body tambahan untuk vertikal-grip yang membuat body kamera jadi lebih ringkas.</p>
<p><span id="more-68"></span>Dengan harga sekitar 30 juta-an, kamera ini mempunyai resolusi 21.1 megapixel, lebih tinggi dari Nikon dan sedikit lebih rendah dari Sony.  Inti pemrosesan data dikepalai oleh DIGIC 4 Image Processor, processor baru yang dikeluarkan Canon untuk memastikan pengolahan data yang lebih cepat dan menghasilkan mesin yang lebih handal.</p>
<p>Rentangan ISO yang dimilikinya dari 100-1600, namun bisa di ekspansi sampai 50 untuk ISO L, 12800 untuk ISO H1 dan 25600 untuk ISO H2.</p>
<p>Teknologi EOS terbaru yang dibawanya antara lain <em>Auto Lighting Optimizer</em> dan  <em>Peripheral Illumination Correction</em>. Kamera ini juga bisa digunakan untuk <em>Live View shooting</em>, termasuk <em>Live View </em>untuk HD videos, dan masih banyak lagi yang lain, mungkin di lain kesempatan saya bisa membahasnya lebih mendetil. It</p>
<p>Dalam hal kecepatan menembak, kamera ini bisa menembak sampai 3.9 fps, memiliki 9 AF points dan 6 AF assist points. Viewfinder barunya bisa mencakup 98% coverage, layar 3.0-inch dengan LCD beresolusi 920,000 dots.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://photography.sawala.com/blog/?feed=rss2&amp;p=68</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Persiapan Belajar Fotografi</title>
		<link>http://photography.sawala.com/blog/?p=36</link>
		<comments>http://photography.sawala.com/blog/?p=36#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Jan 2009 14:16:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sawala</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Belajar Fotografi]]></category>

		<category><![CDATA[fotografi pemula]]></category>

		<category><![CDATA[Keluarga Sawala]]></category>

		<category><![CDATA[sawala fotografi]]></category>

		<category><![CDATA[sawala photography]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://photography.sawala.com/blog/?p=36</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Seni fotografi bukanlah hasil karya kebetulan atau coba-coba belaka&#8221;
Setelah saya disibukan dengan pemikiran tentang definisi fotografi, langkah selanjutnya dalam benak saya ketika akan terjun dalam kesenangan ini adalah mempersiapkan peralatan perang. Masih dikaitkan dengan menulis, jika menulis kita memerlukan kertas dan alat tulis, maka dalam fotografi pun lebih kurang sama, hanya saja kertas diganti dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>&#8220;Seni fotografi bukanlah hasil karya kebetulan atau coba-coba belaka&#8221;</em></p>
<p>Setelah saya disibukan dengan pemikiran tentang <a href="http://photography.sawala.com/blog/?p=28">definisi fotografi</a>, langkah selanjutnya dalam benak saya ketika akan terjun dalam kesenangan ini adalah mempersiapkan <em>peralatan perang</em>. Masih dikaitkan dengan menulis, jika menulis kita memerlukan kertas dan alat tulis, maka dalam fotografi pun lebih kurang sama, hanya saja kertas diganti dengan media penyimpanan berupa film atau sensor digital dan alat tulis diganti dengan kamera.</p>
<p>Film atau sensor digital mempunyai peranan yang sangat vital, karena semua karya seni yang kita kerjakan hanya bisa dinikmati oleh orang lainnya awalnya diproses atau disimpan melalui media ini. Jika waktu era fotografi film kita hanya memilih ISO/ASA dan merek sebuah film untuk langsung bisa memotret, lain halnya untuk fotografi yang memakai digital, Anda harus dipusingkan dengan beberapa hal yang susah dimengerti oleh orang awam.</p>
<p><span id="more-36"></span>Pada kamera digital, penyimpanan dan alat menulis dijadikan satu kesatuan yang tidak terpisah. Jika film dan kamera Anda bisa membelinya secara terpisah, tidak demikian dengan sensor digital dan kamera. Satu kali Anda memutuskan membeli kamera dengan sensor 5 Megapixel, maka Anda tidak akan bisa merubahnya menjadi 10 Megapixel.</p>
<p>Maka jika Anda berniat membeli kamera digital, alangkah lebih baiknya belajar sedikit tentang apa itu megapixel, sensor yang digunakan, <em>processor </em>pada kamera tersebut dan lensa yang digunakan. Mungkin dalam kesempatan lain saya akan membuat artikel cara-cara membeli kamera versi saya.</p>
<p>Setelah mempunyai kamera, Anda sebetulnya telah siap untuk berkarya membuat suatu yang bernilai seni dalam lingkup fotografi. Tapi seni fotografi bukanlah hasil karya kebetulan atau coba-coba belaka, didalamnya terdapat ilmu yang sangat luas. Tapi, intinya cuman satu, yaitu bagaimana menuliskan cahaya terhadap media penyimpanan. Dan dengan prinsip itu pula, luasnya ilmu fotografi menjadi sesuatu yang sangat menarik untuk dipelajari.</p>
<p>Baiklah, sekarang kita siap terjun dalam satu lagi dunia kesenangan kita, sampai ketemu di dalam dunia ilmu baru yang disebut fotografi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://photography.sawala.com/blog/?feed=rss2&amp;p=36</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Apa sih Fotografi itu??</title>
		<link>http://photography.sawala.com/blog/?p=28</link>
		<comments>http://photography.sawala.com/blog/?p=28#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Jan 2009 10:27:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sawala</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Definisi]]></category>

		<category><![CDATA[apa itu fotografi]]></category>

		<category><![CDATA[definisi fotografi]]></category>

		<category><![CDATA[definisi sederhana fotografi]]></category>

		<category><![CDATA[fotografi pemula]]></category>

		<category><![CDATA[sawala fotografi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://photography.sawala.com/blog/?p=28</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Fotografi adalah seni untuk menulis dengan cahaya&#8221;
Photography atau dalam bahasa Indonesia Fotografi adalah sebuah kata yang diambil dari bahasa yunani yaitu Photo dan Graphy. Photo bisa diartikan sebagai cahaya dan Graphy berarti menulis, jadi secara bebas dan sederhana mungkin kita bisa mengartikan sebagai seni menulis dengan cahaya.
Setidaknya itulah secara sederhana saya mengartikan kata fotografi, jika [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>&#8220;Fotografi adalah seni untuk menulis dengan cahaya&#8221;</em></p>
<p>Photography atau dalam bahasa Indonesia Fotografi adalah sebuah kata yang diambil dari bahasa yunani yaitu Photo dan Graphy. Photo bisa diartikan sebagai cahaya dan Graphy berarti menulis, jadi secara bebas dan sederhana mungkin kita bisa mengartikan sebagai seni menulis dengan cahaya.</p>
<p>Setidaknya itulah secara sederhana saya mengartikan kata fotografi, jika Anda ingin definisi yang lebih formal bisa dilihat di berbagai sumber lain.</p>
<p>Dari dasar definisi inilah saya melangkah untuk mempelajari fotografi. Pengetahuan dasar itu saya jadikan alat untuk menelusuri ilmu fotografi agar tidak tersesat. Secara sederhana pula sayapun mengalami pencerahan sedikit demi sedikit dari ilmu yang sangat luas ini.</p>
<p><span id="more-28"></span>Saya ambil contoh ketika saya mempelajari teknik pemotretan malam hari yang disebut <em>Night Shoot, </em>pada awalnya saya berdiri memandangi <em>landscape</em> gedung-gedung di daerah Pancoran Jakarta, saya mencoba mengambil beberapa <em>jepretan</em> dan berharap hasilnya bisa dinikmati, lebih jauh lagi mempunyai sifat artistik. Tetapi sangat jauh dari perkiraan, hasil yang didapat sangatlah gelap dan <em>blur</em> dimana-mana.</p>
<p>Pembelajaranpun saya lanjutkan dengan mengembalikan kepada definisi yang saya sampaikan diatas, bahwa Fotografi adalah seni untuk menulis dengan cahaya. Saya menurunkan definisi tersebut menjadi teknik yang harus saya gunakan untuk memotret <em>Night Shoot</em> ini. Jika saya menulis di kertas, setidaknya saya harus mempunyai tiga hal, yaitu:</p>
<p>1. Kertasnya sendiri,</p>
<p>2. Alat yang bisa menulis di kertas tersebut, dan</p>
<p>3. Objek apa yang akan saya tuliskan dalam kertas tersebut.</p>
<p>Dari sana pembelajaranpun berlanjut, mungkin bagi kita yang telah lulus pendidikan dasar akan tidak asing lagi dengan menulis, ketika ada tiga hal diatas, sudah tentu kita bisa langsung melakukannya. Tapi hal lain akan berbeda jika anak saya yang baru berusia dua tahun mempunyai tiga hal tersebut, kita ambil contoh ketika dia akan menulis namanya sendiri, saya pernah mencobanya dan hasilnya adalah coretan-coretan yang mendekati huruf-huruf yang merangkaia katanya pun tidak.</p>
<p>Contoh anak saya menulis namanya dengan saya yang melakukan <em>night shoot </em>adalah contoh yang sama yang kita sebut sebagai tahap belajar. Tidak ada yang salah dan benar disini, karena proses belajar adalah bukan untuk dihakimi, justru dengan melakukan kesalahan kita menambah lebih banyak ilmu.</p>
<p>Semoga kita bisa menikmati proses pembelajaran dari apapun yang kita ingin capai.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://photography.sawala.com/blog/?feed=rss2&amp;p=28</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Salam</title>
		<link>http://photography.sawala.com/blog/?p=4</link>
		<comments>http://photography.sawala.com/blog/?p=4#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Jan 2009 06:30:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sawala</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Notes]]></category>

		<category><![CDATA[Keluarga Sawala]]></category>

		<category><![CDATA[salam]]></category>

		<category><![CDATA[sawala photography]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://photography.sawala.com/blog/?p=4</guid>
		<description><![CDATA[Blog ini lahir untuk mendampingi situs photography di Sawala. Jika photography.sawala.com adalah galery untuk menampilkan photo-photo yang diambil oleh saya, maka dalam blog ini saya berusaha untuk mendokumentasikan pengetahuan saya tentang photography.
Sepanjang ingatan, dari pertama membeli kamera SLR, banyak ilmu yang telah didapat dalam hal photography. Akan tetapi saya tidak mau membuat situs ini sebagai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Blog ini lahir untuk mendampingi situs photography di Sawala. Jika photography.sawala.com adalah galery untuk menampilkan photo-photo yang diambil oleh saya, maka dalam blog ini saya berusaha untuk mendokumentasikan pengetahuan saya tentang photography.</p>
<p>Sepanjang ingatan, dari pertama membeli kamera SLR, banyak ilmu yang telah didapat dalam hal photography. Akan tetapi saya tidak mau membuat situs ini sebagai tutorial atau apapun yang bermaksud mengajari para pengunjung. Di situs ini saya haya mendokumentasikan ilmu yang telah saya cari dan dapatkan, kerena saya belajar sendiri ilmu ini dan begitu banyak orang yang telah ahli diluar sana sehingga sayapun berharap situs ini akan berguna terutama bagi pengunjung yang mempunyai posisi seperti saya.</p>
<p><span id="more-4"></span>Photography merupakan ilmu yang sudah cukup tua, mungkin <em>resouce</em> di internetpun sudah <em>bejibun, </em>tapi sekali lagi blog ini bukan untuk bersaing dengan mereka yang telah ahli, tetapi ini haya catatan dari sawala tentang ilmu yang dia dapat.</p>
<p>Bagi Anda yang ingin berpartisipasipun silahkan mengirimkan e-mail ke <a href="mailto:contact@sawala.com">contact@sawala.com</a>. mudah-mudahan dengan partisipasi banyak orang situs inipun akan lebih bermanfaat.</p>
<p>Salam dari sawala.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://photography.sawala.com/blog/?feed=rss2&amp;p=4</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
